Label ‘Internasional’ Bukan Prestasi Sekolah

Memantau Siswa dan Prestasi Sekolah

 
Tahun 2012 ini Olimpiade Sains Nasional (OSN) XI yang digelar 2-7 September diikuti 3.102 peserta tingkat SD, SMP, dan SMA/SMK. Bidang ilmu yang dilombakan meliputi Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, Fisika, Astronomi, Komputer, Biologi, Ekonomi, dan Kebumian. Selain itu, dilombakan pula bidang terapan untuk siswa SMK. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) berjanji akan memrioritaskan para juara tahun ini agar dapat masuk ke PerguruanTinggi Negeri (PTN) tanpa tes masuk. Tak hanya itu, para peraih medali di OSN akan diberi kesempatan mengikuti olimpiade internasional. 
Direktur Pembinaan SMA Kemdikbud di Gedung Kemdikbud, Totok, Jakarta, Jumat (31/8), mengtakan bahwa Pemerintah akan memberikan penghargaan kepada para juara dengan membebaskan mereka dari ujian masuk PTN selain bisa mengikuti olimpiade di tingkat internasional. Selain lulus tanpa tes, mereka yang juara jika tidak mampu akan menjadi calon penerima beasiswa Bidik Misi Kemdikbud. Hingga saat ini Kemdikbud sering menerima keluhan tentang sulitnya para pemenang olimpiade  diterima di PTN. Sehingga tak heran jika para pemenang olimpiade lebih memilih kuliah di luar negeri atau bahkan tidak melanjutkan kuliah akibat terbentur masalah ekonomi.
Sementara itu, dalam Olimpiade Iptek Internasional (International Sustainable World Energy, Engineering & Environment Project Olympiad, I-SWEEEP 2012) yang diselenggarakan di Houston, Amerika Serikat, tanggal 3 – 6 Mei 2012 lalu enam siswa Indonesia meraih medali perak dan perunggu, yaitu Aristyo Rizka Darmawan dan Fuad Makarim Imran dari SMA Kharisma Bangsa, Banten, meraih medali perak pada kategori Lingkungan Hidup. Proyek penelitian mereka berjudul  “Uses Chitosan and Natural Colorant as Raw Material Textile Surface Modifications”.
Dwi Astuti dan Tisa Mahdiansari dari SMA Al-Kautsar, Lampung, meraih medali perunggu pada kategori Lingkungan Hidup. Penelitian mereka berjudul “The Utilization of Dry Field By Using Trickle Irrigation Method With Coconut Fiber As Emitter”.
Leonardo Ardianto dan Christian Edwin Pranata dari SMA Santa Laurensia Banten mendapat medali perunggu pada kategori Enerji. Proyek penelitian mereka berjudul “Modification on a Centripetal Force Concept Based Vertival Axis Water Turbine”. Kedua siswa itu juga mendapatkan penghargaan di bidang Environmental Friendly Technology.
Siswa tersebut didampingi oleh tiga orang guru, Nur Wijayanto dari SMA Kharisma Bangsa, Sujarwo dan Tini Silvia Sakti dari SMA Al-Kautsar. Sebelum mengikuti Olimpiade IPTEK Internasional, tim Indonesia tersebut telah diuji pada perlombaan IPTEK di Indonesia yang diselengarakan oleh Indonesian Science Project Olympiad (ISPO) di Universitas Indonesia. Tim SMA Karisma Bangsa dan SMA Laurtensia, masing-masing mendapatkan medali emas, sedangkan tim dari SMA Al-Kautsar Lampung mendapatkan medali perak. Kriteria pemenang ditentukan dengan beberapa penilaian seperti kreatifitas, metode penelitian, ide orisinal, aplikasi, dan presentasi. Dari 68 negara dan 44 negara bagian AS, dipilih 40 proyek yang ditetapkan sebagai semifinalis. Dari hasil saringan 40 proyek, sebanyak 10 proyek penelitian mempunyai nilai tertinggi. Finalis 10 proyek diadu untuk memperebutkan gelar pemenang utama yang mendapat hadiah uang tunai US$3.000.

Dalam acara Asia Pacific Conference of Young Scientist (APCYS) 2012 yang berlangsung di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, pada 3-7 September 2012, tiga belas pelajar Indonesia ikut berkompetisi dengan para pelajar dari 11 negara lain. President APYCS, Monika Raharti, seusai pembukaan acara itu, Senin, mengatakan bahwa para peserta dari Indonesia diseleksi terlebih dulu di tingkat provinsi. Seleksi diadakan di Sumatera Utara, Bali, Papua, Kalteng, Kalimantan Timur, Jawa Barat, Jawa Timu r, Jawa Tengah, dan Yogyakarta. Setelah melalui lomba regional, para peserta mengikuti seleksi nasional yang diselenggarakan Surya Institute.
Para dewan juri berasal dari Institut Teknologi Bandung, Universitas Indonesia, Universitas Palangkaraya, dan berbagai lembaga penelitian pemerintah serta swasta. Penelitian yang dipresentasikan para peserta APCYS dikategorikan dalam lima kelompok yakni fisika, matematika, ilmu komputer, lingkungan, dan life science. Dalam konferensi penelitian ilmiah untuk para pelajar sekolah menengah atas (SMA) se-Asia Pasifik yang pertama itu, para siswa akan mempresentasikan penelitian ilmiah masing-masing. Setiap presentasi dilakukan dengan waktu paling lama 15 menit.Hadiah medali emas, perak, dan perunggu akan dianugerahi untuk setiap kategori. Jumlah total pelajar yang mengikuti APCYS sekitar 70 orang.
Efektifkah OSN
Olimpiade Sains Nasional yang diikuti siswa SD, SMP, dan SMA sudah berlangsung sejak tahun 2002. Meski demikian, perkembangan pendidikan dan jenjang karier siswa berprestasi yang meraih juara OSN tidak terpantau. Semestinya pemenang olimpiade internasional difasilitasi akses pendidikannya mulai perguruan tinggi negeri hingga jenjang doktor.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh seusai membuka ajang tahunan Olimpiade Sains Nasional (OSN) XI/2012, Senin (3/9/2012), di Jakarta berdalih akan membuat sistem track  di mana mereka berada sehingga bisa diberi perlakuan khusus untuk pendidikannya. Pemantauan, masih ditujukan bagi pemenang olimpiade internasional. Selama ini sering belum klop karena siswa maunya masuk jurusan A, tetapi kompetensinya di jurusan B.
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah Kemdikbud Hamid Muhammad menambahkan, OSN akan terus dilanjutkan, tetapi dievaluasi, terutama untuk menambah siswa yang meraih juara olimpiade internasional. Selama ini prestasi Indonesia stagnan.
Padahal pada 10-18 Juli 2011, Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI) berhasil meraih satu medali emas, satu medali perak, dan tiga medali perunggu pada ajang Olimpiade Fisika Internasional atau International Physics Olympiad (IPhO) ke-42 di Bangkok, Thailand. Para pelajar tersebut yaitu Erwin Wibowo, siswa SMAK BPK Penabur Gading Serpong, Banten meraih medali emas, sedangkan medali perak diraih oleh Kevin Ardian Fauzie, siswa SMA Santa Maria Pekanbaru, Riau. Medali perunggu masing-masing diraih oleh Farhan Nur Kholid dan Luqman Fathurochim keduanya adalah siswa SMA Sragen Bilingual Boarding School Jawa Tengah, serta Imam Agung Raharja, siswa SMA Pribadi Depok, Jawa Barat. Meskipun batas terbawah dari nilai peserta peraih perunggu adalah 24,62 dan ini berarti di bawah nilai rata-rata, kelima peserta Indonesia nilainya di atas rata-rata semua. Para pemenang olimpiade TOFI ini akan mendapatkan penghargaan. Peraih medali emas akan mendapatkan penghargaan beasiswa kuliah sampai jenjang S3, sedangkan peraih medali perak mendapatkan beasiswa kuliah sampai jenjang S2. Peraih medali perunggu mendapatkan beasiswa S1.
Pengamat pendidikan, Arief Rachman, di Jakarta, Selasa (19/7) menilai pemerintah kurang menghargai prestasi para pemenang olimpiade sains internasional. Beasiswa sekolah di perguruan tinggi, dirasa belum cukup sebagai apresiasi tunas-tunas bangsa tersebut. Bukan hanya minimal, hampir tidak ada penghargaan (dari pemerintah), kata Arief. Semestinya, pemerintah bergerak cepat dengan langsung menggaet para peraih olimpiade tersebut sebelum mereka menyelesaikan sekolahnya. Kalau perlu saat mereka kelas 3 SMU, mereka sudah dipesan bersekolah di perguruan tinggi negeri tertentu sesuai bidang mereka. Fenomena saat ini dimana para peraih prestasi olimpiade sains internasional ramai-ramai mendaftar di perguruan tinggi luar negeri adalah hal yang wajar. Dalam era globalisasi saat ini wajar jika semua orang mencari institusi terbaik untuk dirinya sendiri.
Dirjen Pendidikan Menengah Kemdikbud (Kemdikbud) Hamid Muhammad mengatakan, pihaknya sebenarnya memiliki seluruh data para pemenang sejak awal ikut Olimpiade internasional hingga kini. Namun, tidak memiliki data kegiatan terkini para pemenang Olimpiade itu. Data itu dianggap penting untuk mengetahui apakah para juara ini bekerja di luar negeri atau mengabdikan ilmunya di dalam negeri. Dari data itu, juga akan ketahuan apakah sudah terjadi “brain drain” dari anak-anak pintar Indonesia atau tidak. Karena, sayang sekali jika anak-anak pintar itu justru mengabdikan kecerdasannya bagi negara lain.
Cikal Bakal Prestasi
Prof. Yohanes Surya Ph.D., adalah sosok yang memperkenalkan program Tim Olympiade Fisika Indonesia (TOFI), sebuah usaha untuk menetaskan juara fisika, di panggung dunia. Usahanya didorong obsesi untuk suatu ketika tampil seorang pemenang Nobel Fisika dari Indonesia. Bukan hanya mimpi, karena seorang mahasiswa jurusan Fisika ITB, Anike Nelce Bowaire (dari Papua ; red), memperoleh penghargaan First to Nobel Prize in Physic 2005 dalam Kejuraan Fisika Dunia di Amerika. Anike sekarang belajar di MIT – Massachusetts Institute Of Technology di A.S., Universitas yang melahirkan paling banyak pemenang Nobel dunia. Anike adalah anak didik Prof. Dr. Yohanes yang mengikuti Program Olympiade Fisika Nasional sebuah program pelatihan khusus untuk anak-anak berbakat di Indonesia.
Prof. Dr. Yohanes mengatakan bahwa Indonesia memerlukan paling tidak 10,000 orang yang memiliki keahlian “advance In science and technology” sebagai persyaratan dasar sebuah bangsa untuk mengembangkan diri sejajar dengan bangsa-bangsa maju di dunia. Sekarang ini baru sekitar 100 orang yang tercatat memiliki keahlian dibidang itu, padahal berdasarkan uji statistik rata rata terdapat seorang genius diantara setiap 10.000 orang di dunia. Karena Indonesia berpenduduk 230 juta secara teoritis paling tidak seharusnya terdapat 230,000 orang jenius diIndonesia! Sebuah potensi besar untuk menemukan para ahli di bidang “Advance Science and Technology”.
Kejeniusan seseorang diukur tingkat IQ-nya yang minimal 140, dan tidak mempunyai korelasi dengan standard gizi yang dikonsumsi sehari-hari. Jenius adalah sebuah bakat alam yang ada sejak dilahirkan. Masalahnya adalah sebagian terbesar anak-anak jenius ini tidak diolah, dilatih dan dididik secara proper. Jenius hanyalah potensi dasar.
Sebagai contoh, bulan September 2004, Andrey Awoitau, murid SMP kelas 1 di Papua ditemukan mempunyai bakat jenius. Oleh Prof. Yohanes, kemudian mebawanya ke Jakarta. Setelah dilatih secara khusus selama 8 bulan, Andrey diikutkan pada kompetisi Olympiade Matematika Indonesia dan memperoleh Medali Perak. Delapan bulan berikutnya lewat berbagai pelatihan lanjutan, Andrey memperoleh Medali Emas dengan mengalahkan Ivan Christanto – Juara Dunia Olympiade Matematika.
Bulan Agustus 2005, Prof. Yohanes melakukan penelitian acak diantara 27 SMU Negeri dan 17 SMU Swasta di Jakarta. Hasilnya dari 1,500 siswa yang diteliti, 300 siswa mempunyai IQ 140, dari jumlah itu 44 siswa memiliki IQ 150 – melewati tingkat jenius. Ahli fisika dunia Albert Einstein penemu teori relativitas memiliki IQ 150. Sedangkan Prof. Dr. Wiryono Karyo, Sekjen Departmen Energi dan Sumber Daya Mineral mempunyai IQ 170.
Bulan November 2005, Prof. Yohanes lewat penelitian lain terhadap 400 siswa SMA kelas 1 Kabupaten Toba, Samosir, menemukan 6 orang dengan IQ 150 – super jenius. Sejak program TOFI (Tim Olympiade Fisika Indonesia) diluncurkan tahun 1993, pelajar binaannya sudah merebut 54 medali emas, 33 medali perak dan 42 medali perunggu di berbagai kompetisi Matematika/Fisika Internasional. Jumlah ini bertambah ketika 3 minggu lalu TOFI memperoleh 2 medali Emas, 2 medali Perak dan 1 medali Perunggu pada International Physics Olympiad ke-39 di Hanoi, Vietnam. Sebelumnya Kelvin Anggara (SMU Sutomo, Medan) untuk pertama kalinya dalam sejarah memperoleh medali emas di Olympiade Kimia Internasional di Budapest (12-21 Januari 2008).
Yang paling terkenal, Yonatan Mailoa, siswa kelas 3 SMA Penabur BPK (IQ 153) yang pada bulan Juni 2006, merebut Medali Emas Fisika Dunia, setelah memenangkan kompetisi yang diikuti oleh 356 peserta dari 85 Negara. Mailoa sekarang melanjutkan kuliah di MIT – Massachusets Institute Of Technology, A.S. Bulan Juli 2007, Muhammad Firmansyah Kasim, murid kelas 1 SMU Negri Makasar (IQ 152) memperoleh dua medali emas: masing-masing untuk kejuaraan Olympiade Asia di China diikuti oleh 80 Negara dan Olympiade Dunia di Iran yang diikuti oleh 90 Negara.
Prof. Nelson Tansu Ph.D, memperoleh gelar Professor Fisika pada umur 25 tahun dari Pennsylvania State University, hanya sepuluh tahun setelah lulus SMU Dr. Sutomo 1 Medan, Nelson menjadi Profesor termuda dalam sejarah perguruan tinggi di Amerika Serikat. Sementara itu Reza Pradipta berumur 23 tahun saat ini sedang kuliah untuk memperoleh gelar Doktor Teknologi Nuklir di MIT – salah satu perguruan Tinggi terbaik didunia.
Sebuah Majalah Politik Terkemuka A.S. ”Foreign Policy”, (yang merupakan salah satu majalah jaringan Group ”Washington Post”,) – edisi Mei 2008, menempatkan Dr. Anis Baswedan yang sekarang Rektor Universitas Paramadina – sebagai salah satu dari 100 ”World public intelectuals”, sejajar dengan Al Gore, Noam Chomsky, Francis Fukuyama, Umberto Eco, Lee Kuan Yew, sejarawan India – Ramachandra Guha dan Penulis Fareed Zakaria.
Bulan April 2004, pada kejuaraan Fisika antar tujuh universitas paling prestigius didunia – Harvard University; University of California – Berkeley California; Princeton University; California Institute of Technology; Stanford University; Bremen University dan MIT- Massachusetts Institute of Technology keluar sebagai juara setelah mengumpulkan penghargaan terbanyak. MIT mengirim 7 orang mahasiswa, 3 diantaranya mahasiswa Indonesia yang sedang belajar perguruan tinggi tersebut.
Sejak 2002 Majalah Iptek Anak Orbit bekerja sama dengan Nestle Dancow telah menggelar Pentas Kreasi Anak Indonesia (PKAI) 2008-Funtastic 10 untuk yang ketujuh kalinya. Hingga kini sekitar 25.000 anak Indonesia telah ambil bagian dalam PKAI, 588 di antaranya memenangkan berbagai Olimpiade Matematika dan Lomba Percobaan IPA (ilmu Pengetahuan Alam). Di tahun 2008, PKAI yang bertemakan Langkah Awal Menuju Prestasi Internasional, diselenggarakan di tiga kota, yaitu di Surabaya 2 November dengan sekitar 1.500 peserta, kemudian di Yogyakarta 9 November dengan sekitar 1.100 peserta, dan sebagai penutup di Jakarta 23 November 2008 dimana sekitar 2.000 peserta telah mendaftar.
Ketua Dewan Juri Olimpiade Matematika PKAI, Ridwan Saputra, yang juga menjabat sebagai Kepala Pembina Olimpiade Dunia, mengatakan bahwa PKAI adalah ajang bagi murid Taman Kanak-Kanak (TK), serta Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) untuk menampilkan berbagai prestasi dan karya inovatif mereka, dengan menyenangkan dan edukatif. Tujuan PKAI adalah menanamkan kecintaan anak terhadap IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) serta semangat kompetisi yang sehat pada anak-anak. Beberapa kreasi ilmiah yang pernah menjuarai ajang ini antara lain peragaan lumpur Lapindo, roket kimia, pembangkit listrik mini tenaga air, dan alat pendeteksi banjir.
Minat peserta PKAI semakin bertambah. Bila pada penyelenggaraan pertama 2002 peserta hanya 1.000 anak, maka 2008 telah menjadi 4.500 peserta. Ini menunjukkan bahwa pelajar Indonesia meminati IPA dan Matematika. Calon pemenang Lomba Percobaan IPA dan Olimpiade Matematika tingkat dunia harus dilatih sejak dini melalui kompetisi nasional yang berstandar internasional. PKAI merupakan salah satu ajang yang bisa dijadikan langkah awal menuju prestasi internasional. Lulusan PKAI yang telah mengukir prestasi di dunia antara lain Wilson Kurniawan (Juara Olimpiade Matematika PKAI 2004, 2005, 2006 Jakarta), Toby Moektijono (PKAI 2005 Jakarta) dan Christa Lorenzia Soesanto (Juara Olimpiade Matematika PKAI 2006 Jakarta).
Crista Lorenzia Soesanto, juara Olimpiade Matematika PKAI 2006 yang akrab dipanggil Ita, menyatakan, PKAI memberikan pengalaman dan latihan menuju olimpiade kelas dunia, karena standar pertandingan yang diterapkan PKAI sudah bertaraf internasional. telah memenangkan Lomba Olimpiade Matematika tingkat internasional.
Ajang yang didukung otoritas pendidikan ini melombakan tujuh jenis kegiatan, antara lain Olimpiade Matematika tingkat SD (kelas 4-6) & SLTP (kelas 1-2), Lomba Percobaan IPA tingkat SD (kelas 3-6), Lomba Menggambar tingkat SD (kelas 3-4 dan kelas 4-6) dan Lomba Mewarnai (kelas 1-2 SD dan TK). Para juara Lomba Percobaan IPA dan Matematika SD serta SLTP mendapatkan Piala Bergilir dari Majalah Iptek Anak ORBIT, Piala Tetap ORBIT, Piala Nestle DANCOW (juara setiap kategori), uang tunai, sertifikat dan bingkisan. Setiap peserta juga mendapat sertifikat, Majalah Iptek Anak ORBIT serta bingkisan dari Nestle DANCOW.
Setelah sukses memelopori Asian Physics Olympiad, Indonesia kembali membuat inovasi. Kali ini, para ilmuwan Indonesia yang tergabung dalam Surya Institute menggelar World Physics Olimpiad (WoPho). Berbeda dengan penyelenggaraan olimpiade-olimpiade yang umumnya diadakan selama 5-8 hari, waktu pelaksanaan WoPho digelar satu tahun penuh. Untuk mengikuti WoPho, para peserta harus melewati tiga tahapan, yaitu, selection round, discussion round, dan final round. Selection round dibuka untuk siapa saja di seluruh dunia yang telah dimulai pada Januari hingga Juni 2011 lalu. Dalam babak ini, para peserta diberi sepuluh soal fisika yang dapat diunduh melalui.
Pendiri Surya Institute, Yohannes Surya, dalam jumpa pers WoPho, di Grand Indonesia, Jakarta, Kamis (22/12/2011), menjelaskan bahwa Soalsoal olimpiade memang sulit, tapi jawabannya bisa dicari dari jurnal-jurnal, paper fisika, buku fisika, atau pun artikel fisika dari internet. Peserta terbaik yang mampu mengerjakan 78 persen soal diundang sebagai peserta final round. Discussion round jatuh pada Juli-Desember 2011. Tujuan tahap ini adalah untuk mempopulerkan fisika melalui media diskusi. Siapa saja bisa menjadi peserta untuk ikut mendiskusikan soal-soal olimpiade fisika yang diberikan pada tahapan selection round maupun soal fisika yang setingkat dengan olimpiade fisika. Disini calon-calon fisikawan masa depan berdiskusi. Mereka yang paling aktif akan mendapat hadiah.
Sementara, tahap akhir yaitu final round akan diselenggarakan pada 28 Desember 2011 hingga 3 Januari 2012. Dalam babak ini, peserta selection round, para peraih medali emas dalam Asian Physics Ilympiad dan International Physics Olympiad, bersama mahasiswa dari universitas top dunia (MIT, Harvard, Caltech, Tsing Hua dan sebagainya) akan bertanding untuk menjadi yang terbaik di dunia dalam bidang fisika. Final round ini yang paling seru. Tema kita let’s beat the champion. Di sini akan ditentukan siapa yang paling baik dari yang terbaik dalam bidang fisika.

Peserta yang akan berpartisipasi dalam final round yang digelar di Mataram, Nusa Tenggara Barat ini berasal dari 15 negara termasuk Indonesia, dengan jumlah peserta sekitar 130 orang. Pemenang terbaik akan mendapatkan hadiah utama sebesar 20 ribu dollar AS dan 10 ribu dollar AS untuk kategoriThe Best Theotrical Result, dan The Best Experimental Result.
Yang benar bukan ‘internasionalisasi’
Untuk merealisasikan mimpinya Prof. Yohanes berencana mendirikan paling tidak 10 kelas super di Indonesia. Masing-masing kelas terdiri dari 20 orang yang dipilih diantara siswa yang mempunyai IQ diatas 140 dan ditempelkan di SMU unggulan di Indonesia. Sekarang ini ada satu kelas yang sudah ditempelkan ke SMU 3 Jakarta. Kalau program ini berjalan baik dipastikan dalam dua tahun, akan lebih banyak siswa Indonesia yang menjadi juara Olimpiade Asia maupun Dunia.
Tanggal 3 sampai 10 Agustus 2008 di Bali, Indonesia menjadi tuan rumah ”Asian Science Camp”, ajang pelatihan siswa unggul seluruh Asia. Mereka dilatih oleh enam pemenang hadiah Nobel diantaranya: Professor Masatoshi Koshiba (2002) Nobel Fisika Jepang, Professor Yuan Tseh Lee (1986) Nobel Kimia Taiwan, Professor Douglas Osherroff (1996) Nobel Fisika USA, Professor Richard Robers Erns (1991) Nobel Kimia Switzerland. Indonesia mengikut sertakan 350 peserta.
Beberapa mantan juara Olyimpiade Fisika yang telah menjadi peneliti di luar negri menjadi pembicara diantaranya Prof. Nelson Tansu, Profesor termuda di A.S., Prof Johny Setiawan yang bekerja di Max Planck Institute for Astronomy – satu-satunya astronomy non-Jerman di Institute itu –yang menemukan delapan planet di tata surya lain, tiga diantaranya planet HD 47536c; HD 110014b dan HD 110014c, akan dipublikasikan tahun depan dalam jurnal astronomi, dan Dr. Rizal Fajar satu dari 8 scientist yang merancang dan menerbangkan ”probe” – laboratorium penelitian angkasa luar A.S., yang berhasil mendarat di Planet Mars.
Mantan Presiden Habibie adalah seorang jenius yang lulus dari Perguruan Tinggi Rheinisch – Westfalische Technice Hohscule, Achen, Jerman dengan nilai Summa Cumlaude dibidang ”teknologi pesawat terbang” – Habiebie menjadi doktor pertama di dunia yang memperoleh Summa Cum-laude di bidang itu. Selama bermukim di Jerman menjadi warga negara kehormatan negara itu dan menjadi salah satu Vice President Pabrik Pesawat Terbang MBB – Messerschmitt Bolkow Blohm. Dialah yang menemukan rumus keretakan pesawat terbang. Penemuan itu sangat membantu upaya mendisain pesawat penumpang raksasa yang dibuat di pabrik Boeing maupun Air Bus. Rumus nya dipakai untuk mendisain pesawat Jumbo Boeing 747 dan Boeing 777 serta Air Bus A380. Temuannya menyebabkan Habibie dikenal sebagai ”Mr. Crakers”.
Selain kaya Sumber Daya Alam Indonesia juga kaya dengan SDM – Sumber Daya ManusiaUnggul – terdiri dari orang orang muda yang cerdas, hebat dan berbakat. Mereka yang akan membawa Indonesia sebagai negara dengan kekuatan ekonomi terbesar ke lima di dunia setelah Cina, India, Uni Eropah dan A.S. Sayangnya, banyak orang muda Indonesia pintar yang didorong keperluan memperoleh fasilitas labaratorium dan lingkungan budaya peneliti yang advance terpaksa sementara bermukim di luar negri. Ketika IPTN berhenti mendisain dan memproduksi pesawat, ratusan pegawai ahli yang sebelumnya belajar di berbagai universitas ternama dunia hengkang ke berbagai negara dan menjadi tenaga inti diperusahaan yang ditempati. Di Malaysia terdapat 200 karyawan ex IPTN menjadi tenaga inti dari Pabrik Komponen Pesawat. Pabrik itu menjadi supplier untuk Air Bus A320. Di pabrik pesawat Embraer Brazil ada 100 tenaga Teknik Penerbangan Indonesia 5. Di pabrik Lalu, de Havilland, Kanada terdapat 10 orang Teknisi Penerbangan, sementara di Pabrik Boeing A.S. terdapat 20 orang tenaga teknik Indonesia, termasuk Profesor Sulaiman Kamil Mantan Direktur Teknologi IPTN. Di Pabrik Pesawat terbang CASA Spanyol terdapat seorang Trainer Indonesia Ir. Math. Risdaya Fadil. Pesawat terbesar didunia Air Bus A380, yang tahun lalu melakukan penerbangan perdana – didisain oleh ratusan tenaga ahli dari berbagai negara. Tenaga ahli Indonesia merupakan kelompok terbanyak yang berasal dari luar Eropah!
Di Silicon Valley pusat ITC termasuk pabrik Microsoft terdapat 100 ahli IT Indonesia yang bekerja disana. Ahli Indonesia banyak juga yang bekerja di NASA – National Space and Auronatica di Florida A.S.
Kalau saja kelak iklim riset science sudah lebih kondusif mungkin ratusan tenaga ahli Indonesia akan pulang kampung dan bekerja disini. Karena pengalaman empiris membuktikan orang Indonesia yang merantau tidak betah berlama lama diluar negri. Bangsa Indonesia bukan bagian dari bangsa yang suka ber migrasi kenegara lain. Bahkan yang lebih penting jati diri bangsa Indonesia tidak harus di labelkan dengan ‘internasional’
SUMBER :
1. abarky.blogspot.com
2. atjehpost.com
3. moeflich.wordpress.com
5. suarakarya-online.com

Enhanced by Zemanta
Iklan

One response to “Label ‘Internasional’ Bukan Prestasi Sekolah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s