Sang Sopir Yang gigih Belajar

Tarnedi (54), sopir taksi sering meminta diajari bahasa Inggris kepada para penumpangnya. Sepak terjang Pria yang tak pernah lulus SD itu ramai diperbincangkan di media sosial dan di jalanan ibu kota. Semua orang memberi simpati padanya karena masih mau belajar keras meski usianya sudah tak lagi muda. Bagi pria asal Indramayu, Jabar itu, bahasa Inggris adalah kewajiban utama, terutama untuk menambah penghasilannya dari penumpang asing.
Sebetulnya nikmat apa yang bisa diambil dari kisah Tarnedi ?
1.    Belajar dari Kesalahan
Sebuah insiden unik telah terjadi dua tahun lalu pada Tarnedi. Dia pernah membuat kesalahan karena tak mengerti membedakan antara waiting dan meeting. Kala itu, sekitar pukul 12.00 WIB siang, Tarnedi mengangkut tiga penumpang wanita. Mereka hendak ke apartemen Semanggi. Di tengah perjalanan, ketiganya sibuk berdiskusi soal rencana rapat. Mereka menyebut kata ‘meeting’.
“Mereka bilang matang miting, saya pusing. Saya nyeletuk ngomong, Mbak apa artinya? Terus mereka jawab itu artinya rapat,” kata Tarnedi.
Setelah paham soal arti meeting, Tarnedi kemudian mendapat penumpang warga asing. Sang penumpang minta diantar ke area perkantoran di Lebak Bulus. Setibanya di sana, bule itu mengatakan, “Please waiting,”. Nah, Tarnedi yang masih polos, menyangka ucapan bule itu adalah meeting yang baru saja dipelajarinya. Dia pun menolak permintaan bule tadi. Belakangan, dia baru diberi tahu oleh seorang satpam yang bisa bahasa Inggris, kalau maksud bule tersebut adalah untuk memintanya menunggu, bukan untuk mengajaknya rapat.
2.    Kuat Mental Meski Dicaci
Tidak mudah bagi Tarnedi (54) untuk menerapkan bahasa Inggris di lingkungan sekitarnya, keluarga dan teman-temannya tak semua mendukung. Bahkan ada yang skeptis terhadap keinginannya untuk belajar. Kedua anaknya yang selalu diajak berbahasa Inggris tak merespons dengan cukup baik. Begitu pun rekan-rekan Tarnedi sesama sopir taksi.
Namun dia maju terus. Suatu hari, dia pernah meminta anaknya agar belajar bahasa Inggris. Tujuannya agar bisa bersaing dalam dunia kerja di masa yang akan datang.
“Tapi dia balasnya, bapak sok pintar, sok tahu,” katanya. Tarnedi yang bekerja setiap hari hingga tengah malam ini juga kerap dicemooh rekannya sesama sopir taksi ketika berbahasa Inggris di pangkalan. Bahkan ada yang menyebutnya sudah tak waras.
Satu-satunya orang yang mau meresponsnya bicara bahasa Inggris adalah cucunya bernama Diana. Anak lima tahun itu senang bila diajak sang kakek ngomong bak seorang bule.
“They think I’m crazy by speaking English. Mereka bilang biarin aja orang bule yang belajar bahasa kita. Itu benar, tapi kita juga jangan sampai ketinggalan,” pesannya.
3.    Tekun Belajar
Penguasaan kosakata Bahasa Inggris Tarnedi (54) sangat luar biasa. Dia mampu cas-cis-cus dengan tata gramatik yang relatif benar. Modalnya hanya kamus sederhana. Kamus itu bukanlah buku tebal ratusan halaman seperti yang digunakan orang kebanyakan. Dia hanya bermodal lembaran kertas kuning yang bisa ditempel atau biasa disebut post it paper. Di kertas-kertas memo itu, Tarnedi menuliskan setiap kata atau ungkapan yang dia pelajari setiap hari. Tak lupa, dia juga mencantumkan artinya dalam bahasa Indonesia.
“Misalnya ini saya baru nulis sibling, saya baru dikasih tahu tadi artinya saudara kandung. Setiap saya mau ngomong itu kalau lupa lihat catetan ini,” kata ayah dua anak ini.
Di lembaran itu juga terdapat ungkapan lain yang biasa digunakan untuk percakapan sehari-sehari seorang sopir taksi dan pelanggannya. Misalnya “good afternoon”, “are you in a hurry?”, “don’t forget your belongings” dan lainnya. Menurut Tarnedi, kertas itu sangat membantunya dalam menguasai kosakata baru setiap hari. Semua ilmu baru yang dia dapat sehari, akan dia praktikkan keesokan harinya pada para penumpang, tentu dengan pelafalan khas Tarnedi sendiri.
4.   Having Fun dan Tak Pernah Mengeluh
Ayah dua anak ini bercerita, tak bisa mendapatkan ijazah SD karena faktor biaya. Pada waktu itu, ayahnya menyuruh berhenti sekolah dan meminta Tarnedi untuk mencari uang ke Jakarta. Tarnedi muda pun akhirnya menjadi tukang becak di kawasan Kebon Jeruk, Jakbar. Dia sempat mengalami perihnya mengayuh becak di tengah terik dan hujan. Bahkan sampai pernah kecelakaan. Setelah sekian lama menarik becak, Tarnedi pun belajar untuk mengendarai bajaj. Akhirnya dia bisa menjadi sopir bajaj pada tahun 1985. Itu pun tidak mudah. “Pernah juga kebalik di jalanan,” imbuhnya.
Tarnedi (54) sudah merasakan kejamnya jalanan Jakarta sejak usia sangat muda. Kala itu, tahun 1979, dia merantau ke ibu kota tanpa ijazah. Awal mula profesi sebagai sopir taksi dilakoninya sekitar tahun 90-an. Berawal dari mencuci mobil para sopir, dia lalu belajar menyetir. Pria asal Indramayu, Jabar, ini lama kelamaan mahir dan mendapatkan SIM pertama hingga jadi sopir taksi Express selama tujuh tahun terakhir. Kini, Tarnedi masih bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Dia mulai ‘narik’ sejak pukul 05.00 WIB hingga 00.30 WIB dinihari. Pria yang rambutnya dipenuhi uban ini masih punya cita-cita untuk memiliki rumah sendiri.
“Kalau setoran cukup kita bisa pulang lebih awal, kalau setoran nggak cukup kita bisa pulang lebih malam. But don’t worry we have to having fun, bro…,” ucapnya menghibur diri.
5.    Punya Visi Ke Depan
Tarnedi punya visi ke depan. Dia memprediksi, jumlah wisatawan asing ke Jakarta akan terus meningkat. Karena itu, semua sopir taksi harus menguasai bahasa Inggris.
“If you can’t speak English, ready to go back to village,” begitu kata Tarnedi.
Atas usahanya ini, banyak penumpang yang berusaha membantunya. Bahkan ada yang pernah memberinya Rp 500 ribu untuk membeli buku.
Cerita lain soal penumpang adalah seorang wanita yang tiba-tiba mengajaknya ke gedung Menara Karya. Wanita itu ternyata bos yang hendak memberi motivasi pada anak buahnya, yang kebetulan terdiri dari sopir-sopir perusahaan, Nah, Tarnedi diminta untuk berpidato singkat dalam bahasa Inggris di depan para sopir tadi. Secara spontan namun malu-malu, ayah dua anak ini pun menyanggupinya.
“Oke my friend it is nice to meet to you. I’m not here to teach but to learn as more you guys. I want to encourage all of you to speak English. We don’t want to leave our culture, but we also don’t want to leave behind. The best is we learn together,” begitu isi pidatonya di depan para sopir.
Nah, jika sopir taksi saja bisa dan mampu belajar bahasa Inggris, kenapa kita yang sudah sekolah tinggi-tinggi tidak mau belajar banyak bahasa Asing? Mengapa pula kita malah melupakan bahasa Ibu? Gigih, hanya itu yang perlu dimiliki, maka andapun bisa…

SUMBER : 

Enhanced by Zemanta
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s