Profesiku Membawa Nikmat

KISAH NYATA di Koran KASIH Ibu
Oleh: Siti Matsaroh
Aku anak ke4 dari tujuh bersaudara. Ibuku bernama Rohayati, bekerja sebagai pembantu rumah tangga, dan ayahku bernama Gunawan bekerja sebagai supir angkot.
Setelah tamat SD, aku bingung memikirkan sekolahku, mau melanjut ke SMP atau tidak. Aku menyadari orangtuaku selama ini kesulitan membayar uang sekolahku. karena keadaan ekonomi orangtuaku yang kurang mampu, aku memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah.
Putus sekolah memaksaku nekat mencari kerja. Aku bingung, kerjaan apa untuk lulusan SD? Syukurlah, ada tetangga yang menawarkan pekerjaan sebagai pengasuh bayi. Tetapi, pekerjaan itupun tidak aku pahami, apalagi umurku masih 14 tahun.
Awalnya aku bingung, tetapi keadaan memaksaku untuk melakukan apa yang seharusnya kulakukan. Yang aku pikirkan adalah bekerja dan mendapatkan uang untuk membantu orangtuaku. Aku tidak lagi memikirkan sekolahku, tapi aku harus membantu orangtuaku agar adikku bisa sekolah setinggi mungkin, bukan seperti aku.
Bertahun-tahun aku bekerja, selalu berpindah-pindah tempat kerja. Awalnya aku bekerja di Jakarta Timur, kemudian ke daerah lain sekitar Jakarta. Majikanku ada yang baik,ada yang tidak baik, tetapi aku harus selalu sabar menghadapinya.
Hanya sekali setahun aku bertemu dengan keluarga. Rasanya aku ingin menangis karena jauh dari orangtua dan adik-adikku. Tetapi aku harus tetap sabar. Setiap bangun pagi aku selalu sholat. Aku selalu berdoa agar semua orang yang dekat denganku baik samaku selamanya.
Kadang aku bosan dan kesal. Setiap hari aku menyuci, mengepel dan setelah itu mengasuh anak majikan, berulang-ulang bahkan kadang tidak bisa tidur, karena harus bekerja dan bekerja.
Pertama kali aku hanya dapat gaji Rp350 ribu, tetapi pengalaman bekerja mengasuh bayi telah aku dapatkan di tempat itu. Dua tahun sejak bekerja, aku mulai mencoba mencari pekerjaan yang lebih baik. Akhirnya aku bisa mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang lebih besar yaitu Rp400 ribu, dengan pekerjaan lebih sederhana yaitu menyuci dan mengepel rumah majikan.
Pekerjaan itupun menimbulkan rasa bosan, dan muncul keinginan mencari pekerjaan dan majikan yang lebih baik lagi. Padahal sebenarnya majikanku baik. Memang, aku mendapatkan tempat bekerja yang baru di Jakarta Barat sebagi pembantu rumah tangga. Gajinya lebih besar majikannya juga baik, sayangnya anaknya tidak sebaik majikanku.
Akhirnya, pekerjaan itupun aku tinggalkan pada saat lebaran. Itu berarti, aku bekerja di tempat itu, tidak sampai satu tahun. Waktu yang sangatsingkat dibanding tempatku bekerja sebelumnya.
Aku pun menganggur. Tiga bulan mencari kerja sebagai pembantu rumah tangga, tidak aku temukan. Hanya itu pekerjaan yang aku bisa. Aku pikir, mungkin sudah banyak juga orang yang melakukan pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga, sehingga aku tidak mampu lagi bersaing.
Ternyata ayahku pun memahami keadaanku. Temannya menawarkan aku bekerja di Padang. Tetapi ibuku tidak mengijinkanku bekerja di tempat jauh di luar kota Jakarta. Aku patuhi ibuku, aku hanya berdoa dan berdoa. Syukurlah, teman ayahku menemukan lowongan kerja di Jakarta. Akhirnya akupun bekerja kembali.
Awalnya, aku pikir majikanku jahat, karena baru kali ini aku bekerja pada majikan yang berasal dari daerah lain, daerah sumatera yang setahuku daerah konflik. Ternyata, di tempat majikanku yang baru ini, aku bisa melakukan pekerjaan dengan sangat nyaman. Majikan dan keluarganya sangat baik. Bahkan anaknya yang berusia lebih tua dariku sangat sayang padaku, karena selalu membelikanku jajanan kalau dia jajan.
Ibu majikanku juga sering memberikanku uang jajan. Awalnya, gajiku hanya Rp500 ribu, tetapi setelah tiga bulan bekerja, gajiku ditambah menjadi Rp600 ribu. Bagiku itu sudah cukup untuk kebutuhanku dan tambahan untuk membantu orangtuaku.
Setelah gajiku ditambah, majikanku mulai bertanya mengenai sekolahku. Aku gugup. Aku bilang, aku tamat SD
“Apakah kamu mau melanjutkan sekolah ke Paket B?” ujar majikanku.
Aku bingung dan haru. Bagaimana membayar uang sekolahnya nanti?. Majikanku seakan memahami jalan pikiranku.
“Kalau  kamu mau sekolah paket B, nanti kamu akan saya sekolahkan lagi melanjutkan ke Paket C,” kata majikanku.

Aku sungguh terharu dan mengiyakan majikanku. Alhamdulilah, sekarang diusiaku 20 tahun ini, aku tidak malu sekolah Paket C di PKBM Biru Bangsa. ***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s