Jamur Tiram, Usaha yang Menguntungkan

jamur tiramMenjadi pengusaha dengan memiliki usaha sendiri tentu lebih disukai dibanding bekerja dengan orang lain. Selain penghasilan yang didapat merupakan hasil jerih payah sendiri, sukses pun bukan kata yang mustahil bila dikerjakan dengan sungguh – sunguh. Memiliki usaha sendiri juga dapat untuk menyerap tenaga kerja, yang berarti dapat mengurangi pengangguran di masyarakat.
Oleh karena itu, kita harus mampu bangkit untuk menciptakan peluang usaha. Jangan hanya menjadi generasi pencari kerja / karyawan. Kita jelas butuh ketrampilan untuk merealisasikan cita-cita mulia ini.
Keuntungan Bisnis JAMUR!
  1. Bisa dimulai dengan modal sangat kecil, kurang dari 1 juta
  2. Permintaan pasar yang masih sangat tinggi. Kebutuhan pasar jamur pada tahun 2015 diperkirakan sekitar 17.500 ton dan saat ini baru terpenuhi 13.825 ton pertahun
  3. Bisnis yang bisa untung tiap hari. Dengan pengelolaan khusus maka kita bisa panen setiap hari, untung setiap hari.
  4. Bisnis yang paling cepat balik modalnya. Modal 1 baglog jamur, kembali hanya dengan hasil panen pertama. Jamur bisa 3-4 kali panen.
  5. Bisnis yang punya banyak produk turunan. Anda gak perlu khawatir prodk Anda gak laku dipasaran karena bisa Anda jual dalam berbagai bentuk produk olahan jamur.
  6. Bisnis yang gak perlu skill khusus. Artinya, siapapun bisa berbisnis jamur asal tahu kuncinya.

Memulai budidaya jamur tiram putih.

Jamur tiram atau Pleurotus ostreatus adalah jenis jamur yang memiliki pangsa pasar yang luas (bahkan sampai ke luar negeri), sehingga hampir tidak ada kesulitan dalam memasarkan produk ini. Selain itu perawatan yang mudah serta panen yang tidak tergantung musim (bisa dilakukan di semua musim, karena menggunakan lumbung) membuat bisnis pengolahan jamur tiram bisa menjadi pilihan dalam membuka usaha.

Cara budiaya jamur tiram putih

Pertama : Siapkan kumbung. Kumbung atau rumah jamur adalah tempat untuk merawat baglog dan menumbuhkan jamur. Kumbung biasanya berupa sebuah bangunan, yang diisi rak-rak untuk meletakkan baglog. Bangunan tersebut harus memiliki kemampuan untuk menjaga suhu dan kelembaban. Kumbung biasanya dibuat dari bambu atau kayu. Dinding kumbung bisa dibuat dari gedek atau papan. Atapnya dari genteng atau sirap. Jangan menggunakan atap asbes atau seng, karena atap tersebut akan mendatangkan panas. Sedangkan bagian lantainya sebaiknya tidak diplester. Agar air yang digunakan untuk menyiram jamur bisa meresap.

Di dalam kumbung dilengkapi dengan rak berupa kisi-kisi yang dibuat bertingkat. Rak tersebut berfungsi untuk menyusun baglog. Rangka rak bisa dibuat dari bambu atau kayu. Rak diletakkan berjajar. Antara rak satu dengan yang lain dipisahkan oleh lorong untuk perawatan. Ukuran ketinggian ruang antar rak sebaiknya tidak kurang dari 40 cm, rak bisa dibuat 2-3 tingkat. Lebar rak 40 cm dan panjang setiap ruas rak 1 meter. Setiap ruas rak sebesar ini bisa memuat 70-80 baglog. Keperluan rak disesuaikan dengan jumlah baglog yang akan dibudidayakan.

Sebelum baglog dimasukkan kedalam kumbung, sebaiknya lakukan persiapan terlebih dahulu. Berikut langkah-langkahnya:

  • Bersihkan kumbung dan rak-rak untuk menyimpan baglog dari kotoran.
  • Lakukan pengapuran dan penyemprotan dengan fungisida di bagian dalam kumbung. Diamkan selama 2 hari, sebelum baglog dimasukkan ke dalam kumbung.
  • Setelah bau obat hilang, masukkan baglog yang sudah siap untuk ditumbuhkan. Seluruh permukaannya sudah tertutupi serabut putih.

Selanjutnya; Siapkan baglog. Baglog merupakan media tanam tempat meletakkan bibit jamur tiram. Bahan utama baglog adalah serbuk gergaji, karena jamur tiram termasuk jamur kayu. Baglog dibungkus plastik berbentuk silinder, dimana salah satu ujungnya diberi lubang. Pada lubang tersebut jamur tiram akan tumbuh menyembul keluar. Pada usaha budidaya jamur tiram skala besar, petani jamur biasanya membuat baglog sendiri. Namun bagi petani pemula, atau petani dengan modal terbatas biasanya baglog dibeli dari pihak lain. Sehingga petani bisa fokus menjalankan usaha budidaya.

Ada dua cara menyusun baglog dalam rak, yakni diletakkan secara vertikal dimana lubang baglog menghadap ke atas. Dan secara horizontal, lubang baglog menghadap ke samping. Kedua cara ini memiliki kelebihan masing. Baglog yang disusun secara horizontal lebih aman dari siraman air. Bila penyiraman berlebihan, air tidak akan masuk ke dalam baglog. Selain itu, untuk melakukan pemanenan lebih mudah. Hanya saja, penyusunan horizontal lebih menyita ruang.

Cara perawatan budidaya jamur tiram

Sebelum baglog disusun, buka terlebih dahulu cincin dan kertas penutup baglog. Kemudian diamkan kurang lebih 5 hari. Bila lantai terbuat dari tanah lakukan penyiraman untuk menambah kelembaban. Setelah itu, potong ujung baglog untuk memberikan ruang pertumbuhan lebih lebar. Biarkan selama 3 hari jangan dulu disiram. Penyiraman cukup pada lantai saja. Lakukan penyiraman dengan sprayer. Penyiraman sebaiknya membentuk kabut, bukan tetesan-tetesan air. Semakin sempurna pengabutan semakin baik. Frekuensi penyiraman 2-3 kali sehari, tergantung suhu dan kelembaban kumbung. Jaga suhu pada kisaran 16-24oC.

Panen budidaya jamur tiram

Bila baglog yang digunakan permukaannya telah tertutup sempurna dengan miselium, biasanya dalam 1-2 minggu sejak pembukaan tutup baglog, jamur akan tumbuh dan sudah bisa dipanen. Baglog jamur bisa dipanen 5-8 kali, bila perawatannya baik. Baglog yang memiliki bobot sekitar 1 kg akan menghasilkan jamur sebanyak 0,7-0,8 kg. Setelah itu baglog dibuang atau bisa dijadikan bahan kompos. Pemanenan dilakukan terhadap jamur yang telah mekar dan membesar. Tepatnya bila ujung-ujungnya telah terlihat meruncing. Namun tudungnya belum pecah warnanya masih putih bersih. Bila masa panen lewat setengah hari saja maka warna menjadi agak kuning kecoklatan dan tudungnya pecah. Bila sudah seperti ini, jamur akan cepat layu dan tidak tahan lama. Jarak panen pertama ke panen berikutnya berkisar 2-3 minggu.

Simak juga video “Proses Pembuatan Baglog Jamur Tiram dan Budidayanya” untuk membantu masyarakat Anda berbisnis dengan benar dan tepat mulai dari proses hingga analisis usahanya.

Budidaya jamur tiram tanpa baglog?

Berikut tatacara budidaya jamur tiram tanpa baglog yang dimuat oleh Majalah Trubus edisi November 2004.

Persiapan tempat.

Rumah tanam alias kumbung bisa sangat sederhana. Pada percobaan itu rumah kandang sapi yang sudah tidak digunakan. Disana terdapat bak semen untuk pakan. Bak itulah yang digunakan untuk media tanam. Sebelum digunakan, bak semen dan sekitarnya dibersihkan dengan air.

Lakukan sanitasi dengan menyemprot formalin 1%. Terakhir ruangan ditaburi air kapur. Rumah tiram bekas kandang sapi ditutup dengan terpal plastik agar kebersihan terjaga dan terhindar dari udara terbuka. Persiapan dilakukan 2 minggu sebelum pelaksanaan. Tiga hari sebelum penanaman, sanitasi diulang kembali.

Gunakan media tanam seperti biasa digunakan untuk baglog. Setiap 100 kg serbuk gergaji ditambahkan dedak atau bekatul sebanyak 5%, kapur 2%, polard 5%. Pertahankan media pada ph 6, caranya sama seperti bahan baku media baglog. Bahan-bahan yang telah dicampur merata itu dimasukkan ke dalam kantong atau karung plastik masing-masing 10 kg. Sterilkan media dalam karung plastik selama 12 jam. Bila menggunakan boks yang bisa diatur sampai suhu 120 oC, cukup 3 – 4 jam.

Tanam bibit

Setelah dingin, media yang telah disterilkan itu dibuka dan ditaburkan di atas bak semen dengan ketebalan 20 cm. Sebelum media ditaburkan, taburkan bibit jamur tiram di dasar bak. Dosis bibit 2-3 m2 luasan bak setara dengan bibit 1 kg baglog. Baru setelah itu ditebar media merata di atas bak semen. Gunakan papan untuk meratakan permukaan.

Media itu perlu diberi bibit tambahan. Caranya buat lubang tanam dengan jarak antarlubang 5 cm x 10 cm atau sesuai dengan kondisi. Masukkan bibit kedalam lubang tambahan itu menggunakan pinset. Tutup kembali lubang dengan media, tapi jangan ditekan. Cukup diratakan dengan papan.

Selanjutnya media ditutup koran dan plastik. Lapisan pertama, koran, berguna untuk menjaga kelembapan. Yang kedua, plastik, berfungsi untuk menutupi seluruh media agar rapat. Plastik tidak perlu mahal dan tahan panas. Boleh juga digunakan mulsa plastik, gunakan bata sebagai pemberat atau diikat secara melintang dengan bantuan tali dan bambu.

Pengecekan

Pengecekan dilakukan pada minggu ke-2 dan ke-3. Pada periode ini miselium sudah mulai menjalar walaupun belum penuh. Rangsang penyebaran miselium dengan membuat lubang diantara miselim yang belum menyebar di sisinya. Itu membuat aerasi lancar sehingga memicu pertumbuhan miselium. Yang perlu diperhatikan, buat lubang itu dengan tongkat yang telah disterilkan secara perlahan-lahan agar miselium tidak rusak.

Bila pada saat itu terlihat ada media yang terkontaminasi, semprotkan fungisida. Yang lebih aman dengan cara menaburkan garam dapur atau menyiram air garam diatasnya. Formalin 1% dan probiotik 1- 2% bisa dijadikan pilihan alternatif.

Pada minggu ke-4 dan ke-5 miselium hampir penuh. Kertas koran yang menghalangi pertumbuhan dianggat. Pinhead atau calon jamur kecil yang mulai tumbuh harus diberikan keleluasan tumbuh dengan cara menggeser plastik penutup atau pembaratnya. Sehinggu kemudia plastik dibuka dan diberi penyiraman berkabut untuk merangsang pertumbuhan pinhead. Pada saat itu miselium telah memenuhi media.

Panen

Penen dilakukan bila tudung jamur telah cukup besar. Pengambilan hasil itu harus hati-hati. Jaga media jangan sampai rusak agar miselium yang masih tumbuh menghasilkan jamur lagi. Caranya, jamur dipetik dengan memutar batangya sambil sedikit mengangkat. Dengan begitu jamur terlepas dar media, sementara media tetap utuh.

Berdasarkan pengalaman selama percobaan, dari bobot total media 1 kg biasanya didapat hasi rata-rata 400 g jamur tiram. Dengan bobot yang sama, cara baglog menghasilkan 500 g. Namun, penanaman baglog bisa didongkrak hasilnya dengan cara sterilisasi yang lebih cermat. Pekebun yang ingin mencoba sebaiknya menggunakan jamur tiram pada luasan yang kecil dulu agar tingkat kegagalan bisa ditekan. (NS. Adiyuwono, praktikus jamur).

Memang, budidaya jamur tiram dengan baglog jauh lebih menguntungkan daripada  tanpa baglog. Alasannya, pertama adalah dengan baglog jauh bisa menghemat tempat dibandingkan dengan tanpa baglog yang membutuhkan lahan yang luas. Kedua, proses sterilisasi lebih cepat. Ketiga, resiko konstaminasi mikroorganisme lebih kecil. Keempat, hasil yang didapat jauh lebih banyak. Namun walaupun resiko kegagalan dan hasil yang diperoleh dari budidaya jamur tiram tanpa baglog tidak lebih baik dibanding budidaya jamur tiram dengan baglog dilihat, tentu bagi mereka yang kesulitan memperoleh plastik baglog ini cukup menguntungkan. Karena dengan cara budidaya ini produksi bisa tetap dihasilkan.

Sebagai gambaran, kita bisa cermati hasil penelitian Indonesia Mushroom Center dengan hasil percobaan yang disampaikan oleh NS. Adiyuwono. Indonesia Mushroom Center menyatakan bahwa ”Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan mutu dan hasil antara jamur tiram yang ditanam di baglog dan tanpa baglog…. “ sedangkan hasil percobaan yang disampaikan oleh NS Adiyuwono disebutkan terdapat perbedaan hasil antara keduanya yaitu untuk 1 kg media jamur tanpa baglog menghasilkan 400  g, sedangkan untuk 1 kg media jamur tiram dengan baglog menghasilkan 500 g jamur tiram. Mungkin, budidaya jamur tiram tanpa baglog masih belum teruji, sehingga masih perlu dikembangkan lagi agar hasil yang diperoleh setara atau lebih banyak dari hasil budidaya jamur tiram dengan baglog.

SUMBER :

www.carasendiri.com

http://alamtani.com

 

Enhanced by Zemanta
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s